Sabtu, 22 Desember 2012

1/3 malamkuuu


fajar menjemput sepertiga malamku...
perlahan mewarnai dunia, Indah ku lewati proses ituu...
tapi tidak untuk wajahku.. sembab dan basah...
sebab, deraian air mata menjawab suka dan duka dalam garis kehidupan.
menatapi indahnya langit dua warna dan bintang kecil di waktu fajar menyingsing...
aku bersama Tuhan.... aku bersama malaikat....

ingin seperti Tumbuhan, yang slalu bertasbih... agar slalu dekat denganNYA,
tapi aku hanyalah manusia ... seorang yang kadang jauh dan dekat denganNYA... berharap dan berusaha agar hati slalu dekat denganNYA. karna hanya Allah yang maha Besar dan Esa....

menatap langit hingga tak lagi dua warna... terang benderang menerangi wajahku yang sembab...
hanya mampu merunduk dan tersenyum...ikhlas kulepaskan sepertiga malamku yang tlah berlalu...
 

Tak ada yang tak mungkin. Hidup ini penuh kejutan. Kejutan itu dari Tuhan, manis pahit tetep harus kita terima. Hidup ini bukan dongeng Hidup ini bukan sandiwara Hidup ini bukan pertunjukan wayang Ingat itu ziie. . . "Seberapa penting siichh diri ini bagi hidup mereka ?? Kalo tanya pada diri sendiri ... Apa yg aku jawab ? Seberapa penting diriku bagi hidupku? Yaah... Tergantung mereka, seberapa pentingkah diriku bagi hidup mereka. Baru aku tau jawabnku. Tapi.. Aku tak pernah tau, dan tak pernah bisa membaca serta mengartikan isyarat mereka. Mereka itu penuh misteri. Misteri kehidupan. Karna Ketika menjadi orang yang berarti adalah Ketika hidup ku bermanfaat bagi orang lain... Tapii... Sekali lagi semuanya penuh misteri". |7|11|'12|

Kamis, 13 Desember 2012

?

aku hidup...
ku jalani kehidupan...
mengarungi waktu....
melangkah dengan semangat...
memecahkan teka-teki.....
tapii... duka ku terima
ku temukan "tepian" namun "ujung" tak kunjung ku temukan..
menghitung hari tiada tara...
bagai bintang bertaburan, diluasnya langit membentang...
beribu pengalaman di atas muka bumi ini...
 telah ku rasakan, ku hadapi, dan ku ketahui...
namun tak dapat jua ku simpulkan makna hidup yang telah ku lalui...

Senin, 10 Desember 2012

Cahaya kehidupan



Kembali pada jejak,
datang sebutir cahaya…
Cukup ku sentuh dalam jemari tanganku,
dan ia mulai membuka
data seorang jati diri.
Ku cermati dalam ingatan
kutelan dalam-dalam…
penyesalan yang begitu dasyatnya,
rasa itu membuat keningku mengkerut
Perlahan…
Aku mulai melangkahkan kaki pada rel kehidupan
karena sadar akan kesalahan masa lalu.
Yang senantiasa aku berfikir,
“Bahwa kesalahan masa lalu adalah suatu pelajaran yang terbaik”.





Kamis, 06 Desember 2012

indonesiaku oh indonesiaku


“RENUNGAN “

Telah aku rasakan kemerdekaan dan hasil dari kemerdekaan itu, banyak kenangan dan hasil perjuangan dari para pejuang yang telah gugur. Walau gugur, tapi mereka bukan para pengecut yang hanya memikirkan diri sendiri. Tapi mereka  rela terluka bahkan rela kehilangan nyawa untuk kita semua  yaitu Bangsa Indonesia, yang telah menggapai kebenaran dan merebut kemenagan dari bangsa penjajah, tepat pada tanggal 17 agustus 1945. Ketika itu, tesk Proklamasi telah dibacakan dan untuk pertama kalinya Bendera Merah Putih berkibar. Indonesia Merdeka…!!
Apakah pahlawan kita hanya berdiam diri?...”tidak”.  Jelas-jelas tragedy 10 november, pahlawan kita mampu menyingkirkan bendera Belanda dan menyobek berwarna biru, serta menyisahkannya untuk Merah Putih di hotel Yamamoto Surabaya. Berkat tekad dan ketangguhan pahlawan kita, sekalipun nyawa adalah taruhannya Bendera Merah Putihpun kembali berkibar.
Ketika mendengar dan melihat tragedy film “Detik-detik Kemerdekaan”, hatikupun teriris dan terasa disudut mataku tergenang air mata yang penuh dengan rasa kagumku pada pahlawan terdahulu. Kumeratapi semua itu, mulutku hanya bisa bungkam dan enggan untuk berbicara bahkan sepatah katapun “tidak”. Yang ada hanya timbul rasa kagum, terharu,dan tersenyum serta tak lepas dari ucapan rasa syukur pada Allah Yang Maha Esa.
Aku bersyukur, karena aku tidak terlahir pada masa itu. Walaupun demikian, aku bisa merasakan gentirnya pada masa itu, Yang mungkin penuh dengan sayatan pedang, suara tembakan, dan ramainya suara tangisan yang haus akan kemerdekaan, bahkan terlihat lautan merah yang penuh mayat. Membayangkannya saja, sangat mengerikan…! Apa lagi bangsa penjajah yang begitu tega dan kejam. Aku memang terlahir dan ditakdirkan sebagai pewaris bangsa, tidak hanya aku tapi semua insane yang terahir setelah masa itu.
Kini sudah terlihat kemajuan dari bangsa ini meski bertahun-tahun, meski telah banyak pengganti dari pemimpin ke pemimpin lain. Bangsa ini tak luput dari perjuangan pahlawan terdahulu.
Kinipun aku merasakan ketidak puasandengan pemimpin-pemimpin zaman ini. Tak bermaksud aku meremehkan mereka! Tapi banyak pejabat-pejabat yang pengecut, karena mereka hanya memikirkan diri-sendiri dan tidak sedikitpun mereka memikirkan dan menaruh belaian kasihnya untuk kami, terutama rakyat kelas bawah. Sebagian dari mereka adalah Maling. Besar kecilnya Maling tetap pengecut bahkan pantas untuk dikatakan pengkhianat!! Berjanji untuk mensejahterakan rakyat Indonesia, tapi ujung-ujungnya hanya membuahkan pahit. Siapakah itu??... “KoruptoR”. Ya…kita semua  tak asing lagi dengan sebutan itu. Di berbagai media, seperti di Koran, televise, dan radio sebutan itu sering kudengar. “Punya hatikah mereka?..., punya imankah mereka?... jika tidak, untuk apa mereka dengan percaya dirinya, dan dengan bangganya untuk menjadi pegawai, pejabat tinggi, DPR, dan seperti pemimpim-pemimpim lainnya.
Kuresapi semua itu, bahkan sesekali aku membandingkan dengan semangat pahlawan untuk merdeka. Untuk meraih itu semua butuh semangat yang tinggi dan pengorbanan yang besar. Saking begitu banyaknya pengorbanan pahlawan untuk bangsa Indonesia tak dapat ku hitung dengan jari. Sedangkan pejabat-pejabat yang seharusnya menciptakan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, kenyataannya…” tidak”. Malah mereka seperti musuh bagi rakyat Indonesia sendiri. Tak sadarkah para Koruptor selama ini? Apakah harus terulang kembali pada masa penjajah yang serba sulit, agar mereka dapat menyadari dan membuat mereka jera?!... sebuah pertanyaan yang tak bisa ku jawab.
Banyak hal-hal lain  yang sangat menentang dengan hukum dan juga banyak hal-hal yang sangat memalukan bagi bangsa Indonesia. Mungkin jika para pahlawan terdahulu mendapat ijin dari Allah swt untuk hidup kembali hanya untuk melihat dan mengetahui lanjutan kisahnya seperti sekarang ini, ouh… tidak!! Pasti para pahlawan itu sangat merasa malu dan kecewa pada kita, karena kita semua tidak bisa menjadi pewaris bangsa yang baik.
Sebelum aku menulis suara isi hati ini, kertas ini terlihat sangat putih dan bersih. Sungguh aku tega mengotorinya untuk ku tuangkan sebuah ungkapan yang mungkin bisa membuat ku sedikit lega dan puas, hingga kertas ini penuh dengan rangkaian kata-kata. Tentunya aku lebih tertarik dengan sejarah bangsa Indonesia. Aku bingung, apakah aku seorang yang bakat menjadi penulis artikel atau cerpen, ataukah seorang penyair? Karena sungguh ku ingin marah pada keadaan ini. “andai saja tak ada lagi Koruptor, munkin Indonesia bisa menutupi hutang-hutangnya pada Negara lain, dan tak lagi Indonesia menjadi Negara hutang. Andai saja tak ada lagi pemuda-pemudi yang suka mabuk-mabukan, suka mengkonsumsi narkoba, mungkin Indonesia mempunyai penerus bangsa yang lebih berkualitas. Andai saja tak ada lagi pegawai biasa, pejabat tinggi, dan pemimpin lainnya yang hanya duduk manis dan tinggal menerima gaji, mungkin bangsa Indonesia tak lagi mengalami kerugian atau masalah perekonomian.
Apakah bangsa Indonesia akan memjadi bangsa yang bersih?  ia… itu bisa terjad!!... Bukan mengkhayal, tapi jika
Jadi bukan salah takdir, jika Indonesia sering kali tertimpa musibah, banyak bencana alam dan banyak kecelakaan yang terjadi disana-sini. Anggap saja, semua itu sebagai peringatan dari Allah yang maha kuasa untuk kita semua. “Bercerminlah pada kesalahan dan pengalaman  masa lalu, karena itu merupakan sebuah pelajaran terbaik untuk masa depan”.