“RENUNGAN “
Telah aku rasakan kemerdekaan dan hasil dari kemerdekaan
itu, banyak kenangan dan hasil perjuangan dari para pejuang yang telah gugur.
Walau gugur, tapi mereka bukan para pengecut yang hanya memikirkan diri
sendiri. Tapi mereka rela terluka bahkan
rela kehilangan nyawa untuk kita semua
yaitu Bangsa Indonesia,
yang telah menggapai kebenaran dan merebut kemenagan dari bangsa penjajah,
tepat pada tanggal 17 agustus 1945. Ketika itu, tesk Proklamasi telah dibacakan
dan untuk pertama kalinya Bendera Merah Putih berkibar. Indonesia Merdeka…!!
Apakah pahlawan kita hanya berdiam diri?...”tidak”. Jelas-jelas tragedy 10 november, pahlawan
kita mampu menyingkirkan bendera Belanda dan menyobek berwarna biru, serta
menyisahkannya untuk Merah Putih di hotel Yamamoto Surabaya. Berkat tekad dan
ketangguhan pahlawan kita, sekalipun nyawa adalah taruhannya Bendera Merah
Putihpun kembali berkibar.
Ketika mendengar dan melihat tragedy film “Detik-detik
Kemerdekaan”, hatikupun teriris dan terasa disudut mataku tergenang air mata
yang penuh dengan rasa kagumku pada pahlawan terdahulu. Kumeratapi semua itu, mulutku
hanya bisa bungkam dan enggan untuk berbicara bahkan sepatah katapun “tidak”.
Yang ada hanya timbul rasa kagum, terharu,dan tersenyum serta tak lepas dari
ucapan rasa syukur pada Allah Yang Maha Esa.
Aku bersyukur, karena aku tidak terlahir pada masa itu.
Walaupun demikian, aku bisa merasakan gentirnya pada masa itu, Yang mungkin
penuh dengan sayatan pedang, suara tembakan, dan ramainya suara tangisan yang
haus akan kemerdekaan, bahkan terlihat lautan merah yang penuh mayat.
Membayangkannya saja, sangat mengerikan…! Apa lagi bangsa penjajah yang begitu
tega dan kejam. Aku memang terlahir dan ditakdirkan sebagai pewaris bangsa,
tidak hanya aku tapi semua insane yang terahir setelah masa itu.
Kini sudah terlihat kemajuan dari bangsa ini meski
bertahun-tahun, meski telah banyak pengganti dari pemimpin ke pemimpin lain.
Bangsa ini tak luput dari perjuangan pahlawan terdahulu.
Kinipun aku merasakan ketidak puasandengan
pemimpin-pemimpin zaman ini. Tak bermaksud aku meremehkan mereka! Tapi banyak
pejabat-pejabat yang pengecut, karena mereka hanya memikirkan diri-sendiri dan
tidak sedikitpun mereka memikirkan dan menaruh belaian kasihnya untuk kami,
terutama rakyat kelas bawah. Sebagian dari mereka adalah Maling. Besar kecilnya
Maling tetap pengecut bahkan pantas untuk dikatakan pengkhianat!! Berjanji
untuk mensejahterakan rakyat Indonesia,
tapi ujung-ujungnya hanya membuahkan pahit. Siapakah itu??... “KoruptoR”.
Ya…kita semua tak asing lagi dengan
sebutan itu. Di berbagai media, seperti di Koran, televise, dan radio sebutan
itu sering kudengar. “Punya hatikah mereka?..., punya imankah mereka?... jika
tidak, untuk apa mereka dengan percaya dirinya, dan dengan bangganya untuk
menjadi pegawai, pejabat tinggi, DPR,
dan seperti pemimpim-pemimpim lainnya.
Kuresapi semua itu, bahkan sesekali aku membandingkan
dengan semangat pahlawan untuk merdeka. Untuk meraih itu semua butuh semangat
yang tinggi dan pengorbanan yang besar. Saking begitu banyaknya pengorbanan
pahlawan untuk bangsa Indonesia
tak dapat ku hitung dengan jari. Sedangkan pejabat-pejabat yang seharusnya
menciptakan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, kenyataannya…” tidak”. Malah
mereka seperti musuh bagi rakyat Indonesia sendiri. Tak sadarkah
para Koruptor selama ini? Apakah harus terulang kembali pada masa penjajah yang
serba sulit, agar mereka dapat menyadari dan membuat mereka jera?!... sebuah
pertanyaan yang tak bisa ku jawab.
Banyak hal-hal lain
yang sangat menentang dengan hukum dan juga banyak hal-hal yang sangat
memalukan bagi bangsa Indonesia.
Mungkin jika para pahlawan terdahulu mendapat ijin dari Allah swt
untuk hidup kembali hanya untuk melihat dan mengetahui lanjutan kisahnya
seperti sekarang ini, ouh… tidak!! Pasti para pahlawan itu sangat merasa malu
dan kecewa pada kita, karena kita semua tidak bisa menjadi pewaris bangsa yang
baik.
Sebelum aku menulis suara isi hati ini, kertas ini
terlihat sangat putih dan bersih. Sungguh aku tega mengotorinya untuk ku
tuangkan sebuah ungkapan yang mungkin bisa membuat ku sedikit lega dan puas,
hingga kertas ini penuh dengan rangkaian kata-kata. Tentunya aku lebih tertarik
dengan sejarah bangsa Indonesia.
Aku bingung, apakah aku seorang yang bakat menjadi penulis artikel atau cerpen,
ataukah seorang penyair? Karena sungguh ku ingin marah pada keadaan ini. “andai
saja tak ada lagi Koruptor, munkin Indonesia
bisa menutupi hutang-hutangnya pada Negara lain, dan tak lagi Indonesia
menjadi Negara hutang. Andai saja tak ada lagi pemuda-pemudi yang suka
mabuk-mabukan, suka mengkonsumsi narkoba, mungkin Indonesia mempunyai penerus bangsa
yang lebih berkualitas. Andai saja tak ada lagi pegawai biasa, pejabat tinggi,
dan pemimpin lainnya yang hanya duduk manis dan tinggal menerima gaji, mungkin
bangsa Indonesia
tak lagi mengalami kerugian atau masalah perekonomian.
Apakah bangsa Indonesia akan memjadi bangsa yang
bersih? ia… itu bisa terjad!!... Bukan
mengkhayal, tapi jika
Jadi bukan salah takdir, jika Indonesia sering kali tertimpa
musibah, banyak bencana alam dan banyak kecelakaan yang terjadi disana-sini.
Anggap saja, semua itu sebagai peringatan dari Allah yang maha kuasa untuk kita
semua. “Bercerminlah pada kesalahan dan pengalaman masa lalu, karena itu merupakan sebuah
pelajaran terbaik untuk masa depan”.