dalam sadar ku merenung
dalam diam ku berbicara
dalam tatapan kosong ku merasakan
dalam rasa ku terluka
dalam hati tlah terbelah
dalam nya luka sangatlah sakit
tapi dalamnya keinginan tuk bahagia amatlah dalam
ku bebat hati yang terbelah
ku obati dengan keikhlasan
ku satukan dengan senyuman
ku melangkah jauh
pergi... dan menghilang...
tiada yang tau apa mauku
ego yang telah menghalangi pengertiannya
ku biarkan egonya meluap....
tak tenang dengan langkah kakiku ini
ku bersandar dalam setiap do'a
berharap Tuhan menentramkan hati pada setiap peran yang terlibat
ku pergi... menjauh...
yang kuperankan adalah seorang yang tak punya teguh pendirian
menghilang... menjauh... berubah...
adalah jawaban atas egonya yang sangat dalam.
Kamis, 05 Februari 2015
DIAM DAN MEMBUNGKAM
diam dan membungkam
saat kata-kataku tak didengar
bahkan tak ingin didengar
Egonya tlah menguasai
diam dan membungkam
saat jelas kudengar
nada sinisnya mengomentari tentangku
egonya tak mau disalahkan
diam dan membungkam
walau benar,ku bisaapa?
statusku hanyalah sang anak
sedang lawanku adalah ibuku
diam dan membungkam
jerian hati tak pernah ku ingkari
air mata mengalir adalah saksinya
kedua mata tampak tersengat lebah dan itulah saksi kuatnya
diam dan membungkam
saat ku disisihkan
diam dan membungkam saat ku tak dipedulikan
diam dan membungkam
saat ku dibiarkan
diam dan membungkam
saat kurasakan separuh kasih sayangnya....
saat kata-kataku tak didengar
bahkan tak ingin didengar
Egonya tlah menguasai
diam dan membungkam
saat jelas kudengar
nada sinisnya mengomentari tentangku
egonya tak mau disalahkan
diam dan membungkam
walau benar,ku bisaapa?
statusku hanyalah sang anak
sedang lawanku adalah ibuku
diam dan membungkam
jerian hati tak pernah ku ingkari
air mata mengalir adalah saksinya
kedua mata tampak tersengat lebah dan itulah saksi kuatnya
diam dan membungkam
saat ku disisihkan
diam dan membungkam saat ku tak dipedulikan
diam dan membungkam
saat ku dibiarkan
diam dan membungkam
saat kurasakan separuh kasih sayangnya....
KU BERANJAK PERGIMENINGGALKAN RUMAH...
kuberanjak pergi meninggalkan rumah
dengan kendaraan motor ayahku
tanpa ijin dan banyak bicara
kuhidupkan mesin motor dan pergi
kuberanjak pergi meninggalkan rumah
setelah mendapat kesempatan
kemanakah akan ku tuju?
dan kudapatkan balasan whatsapp dari sahabatku Efi
"aku dirumah ndut..."
kuberanjak pergi meninggalkan rumah
walau ku berniat akan pergi jauh
tapi ternya ku belum memantapkan keinginanku
mungkin Tuhan tak mengijinkanku
kuberanjak pergi meninggalkan rumah
'tuk tunaikan lapar dan dahagaku
sejak pertengkaran itu,
aku tak mau makan dan minum
seorang yang melahirkanku tlah menyambarkan petir dihatiku
aku tak mau melakukan aktivitas apapun
aku hanya bisa diam seribu bahasa
hatiku hanya bisa memberikan ribuan saksi dengan tangisan
kuberanjak pergi meninggalkan rumah
kudatangi rumah sahabatku
dengan menebarkan senyum ceriaku
seakan tak terjadi apa-apa
aku senang, karena aku bisa tersenyum
aku senang, karena aku bisa melupakan pertengkaran itu... walau sesaat
aku dan dia berbincang-bincang. banyak cerita konyol yang membuat kita tertawa
tak terasa, banyak sudah jajanan yang kuhabiskan saat mendengar dan bercerita
kemudian sahabatku berkata "jangan-jangan kamu belum makan nasi ya ?"
kuterdiam sejenak...."iyah aku belum makan satu hari, aku bertengkar dengan Ibuku" dengan nada datar, aku sampaikan pengakuanku
terkejut saat sahabtku mendengarnya, lalu sahabatku menawarkan makan
tapi tak kuhiraukan kepeduliannya
dengan dia mendengarkan curahanku, itu sudah cukup
cukup lega...
cukup menenangkan....
dengan kendaraan motor ayahku
tanpa ijin dan banyak bicara
kuhidupkan mesin motor dan pergi
kuberanjak pergi meninggalkan rumah
setelah mendapat kesempatan
kemanakah akan ku tuju?
dan kudapatkan balasan whatsapp dari sahabatku Efi
"aku dirumah ndut..."
kuberanjak pergi meninggalkan rumah
walau ku berniat akan pergi jauh
tapi ternya ku belum memantapkan keinginanku
mungkin Tuhan tak mengijinkanku
kuberanjak pergi meninggalkan rumah
'tuk tunaikan lapar dan dahagaku
sejak pertengkaran itu,
aku tak mau makan dan minum
seorang yang melahirkanku tlah menyambarkan petir dihatiku
aku tak mau melakukan aktivitas apapun
aku hanya bisa diam seribu bahasa
hatiku hanya bisa memberikan ribuan saksi dengan tangisan
kuberanjak pergi meninggalkan rumah
kudatangi rumah sahabatku
dengan menebarkan senyum ceriaku
seakan tak terjadi apa-apa
aku senang, karena aku bisa tersenyum
aku senang, karena aku bisa melupakan pertengkaran itu... walau sesaat
aku dan dia berbincang-bincang. banyak cerita konyol yang membuat kita tertawa
tak terasa, banyak sudah jajanan yang kuhabiskan saat mendengar dan bercerita
kemudian sahabatku berkata "jangan-jangan kamu belum makan nasi ya ?"
kuterdiam sejenak...."iyah aku belum makan satu hari, aku bertengkar dengan Ibuku" dengan nada datar, aku sampaikan pengakuanku
terkejut saat sahabtku mendengarnya, lalu sahabatku menawarkan makan
tapi tak kuhiraukan kepeduliannya
dengan dia mendengarkan curahanku, itu sudah cukup
cukup lega...
cukup menenangkan....
Langganan:
Postingan (Atom)